Masjid Quba adalah masjid pertama dalam Islam, dan Jabal Uhud saksi perjuangan para syuhada. Ini keutamaan dan adab ziarahnya.
Selama berada di Madinah, jamaah umroh dan haji biasanya diajak menziarahi sejumlah tempat bersejarah di sekitar kota. Dua tujuan yang paling dikenal adalah Masjid Quba dan Jabal Uhud. Keduanya menyimpan nilai sejarah dan keutamaan yang layak dipahami sebelum dikunjungi.
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam. Masjid ini didirikan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat saat pertama kali tiba di wilayah Quba dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Al-Qur'an bahkan menyebut sebuah masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama, yang menurut banyak ulama merujuk pada Masjid Quba. Keutamaannya sangat istimewa: dalam sebuah hadits disebutkan bahwa siapa yang berwudu di rumahnya lalu datang ke Masjid Quba dan salat dua rakaat di sana, maka baginya pahala seperti umroh. Karena itu, banyak jamaah menyempatkan diri salat sunnah dua rakaat di masjid yang tenang dan asri ini.
Jabal Uhud adalah gunung besar di utara Madinah yang menjadi saksi Perang Uhud, salah satu peperangan penting pada masa Rasulullah SAW. Dalam perang ini gugur banyak sahabat sebagai syuhada, termasuk paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib. Di kaki gunung ini terdapat makam para syuhada Uhud yang sering diziarahi. Rasulullah SAW sendiri menyatakan kecintaannya kepada Uhud, sehingga tempat ini memiliki kedudukan khusus di hati kaum muslimin.
Dalam menziarahi kedua tempat ini, jamaah perlu menjaga beberapa adab. Di Masjid Quba, manfaatkan kesempatan untuk salat sunnah dan berdoa dengan tenang, serta jaga kebersihan dan ketertiban masjid. Di Jabal Uhud dan makam syuhada, ucapkan salam kepada para syuhada, doakan mereka, dan ambil pelajaran tentang pengorbanan dalam membela agama.
Perlu ditegaskan bahwa ziarah ke makam syuhada bertujuan mendoakan mereka dan mengingat kematian, bukan meminta sesuatu kepada yang telah wafat. Segala doa dan permohonan tetap ditujukan kepada Allah semata. Hindari pula praktik yang tidak diajarkan, seperti mengusap-usap kubur atau meyakini adanya berkah khusus pada bebatuannya.
Dengan memahami sejarah dan keutamaan Masjid Quba serta Jabal Uhud, ziarah di Madinah menjadi lebih bermakna. Jamaah tidak hanya berkunjung, tetapi juga merenungkan perjuangan generasi awal Islam, sehingga pulang dengan iman yang lebih kokoh dan kecintaan yang lebih dalam kepada Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.
Salah satu sunnah yang berkaitan dengan Masjid Quba adalah kebiasaan Rasulullah SAW mengunjunginya secara rutin, khususnya pada hari Sabtu, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara, lalu salat dua rakaat di sana. Jamaah yang memiliki kesempatan dapat meneladani kebiasaan baik ini selama berada di Madinah.
Di kawasan Uhud, terdapat pula bukit kecil yang dikenal sebagai Bukit Pemanah (Jabal Rumat). Dari bukit inilah pelajaran penting Perang Uhud dapat dipetik, yaitu tentang pentingnya ketaatan pada perintah pemimpin dan bahaya tergesa-gesa mengejar keuntungan duniawi. Ketika sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisinya, keadaan perang pun berbalik. Kisah ini mengajarkan disiplin, kesabaran, dan keikhlasan. Dengan merenungkan sejarah di balik setiap tempat, ziarah di Madinah tidak berhenti sebagai kunjungan fisik, melainkan menjadi pelajaran hidup yang menuntun jamaah menjadi pribadi yang lebih baik.