Multazam, area antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, dikenal sebagai tempat doa yang diharapkan mustajab. Ini adab dan waktunya.
Multazam adalah bagian dari Ka'bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah, membentang sekitar dua meter. Nama "multazam" berasal dari kata yang berarti tempat menempelkan diri, karena di sinilah banyak jamaah menempelkan dada, wajah, dan kedua tangannya sambil berdoa memohon kepada Allah.
Multazam dikenal sebagai salah satu tempat yang doanya diharapkan mustajab. Para sahabat dan generasi setelahnya biasa berdoa di tempat ini setelah menyelesaikan tawaf. Karena itu, banyak jamaah umroh dan haji menyempatkan diri singgah di Multazam untuk memanjatkan permohonan yang paling mereka harapkan.
Waktu yang lazim untuk berada di Multazam adalah setelah tawaf, sebelum atau sesudah salat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Namun sebenarnya seseorang boleh berdoa di sana kapan pun ia mampu mendekat tanpa mengganggu jamaah lain.
Adab pertama di Multazam adalah tidak memaksakan diri. Area sekitar Ka'bah sangat padat, terutama pada musim ramai. Bila Anda dapat mendekat dengan tenang, tempelkan tubuh dan tangan ke dinding Ka'bah lalu berdoalah. Bila tidak memungkinkan, cukup menghadap ke arah Multazam dari kejauhan dan berdoa dengan khusyuk; keutamaan doa tidak hilang karena posisi.
Adab kedua adalah menjaga keselamatan dan kenyamanan sesama. Jangan mendorong, menyikut, atau menginjak jamaah lain hanya untuk mencapai dinding. Menyakiti sesama muslim justru bertentangan dengan tujuan ibadah. Utamakan jamaah lansia dan perempuan agar mereka juga memperoleh kesempatan.
Adab ketiga adalah memperbanyak doa dengan bahasa yang dipahami. Tidak ada lafal doa khusus yang wajib dibaca di Multazam. Anda boleh memohon apa saja yang baik: ampunan dosa, kesehatan, keturunan yang saleh, rezeki yang halal, hingga kebaikan dunia dan akhirat. Sampaikan dengan sepenuh hati dan penuh harap kepada Allah.
Yang perlu diingat, keutamaan Multazam adalah anugerah dari Allah, bukan karena batu atau dindingnya memiliki kekuatan tersendiri. Segala doa tetap ditujukan kepada Allah semata. Jadikan momen di Multazam sebagai puncak kepasrahan seorang hamba yang datang jauh dari tanah air, memohon dengan rendah hati di hadapan Baitullah. Dengan adab yang terjaga, waktu singkat di Multazam dapat menjadi salah satu kenangan ibadah paling berkesan sepanjang perjalanan.
Perlu dibedakan antara Multazam dan beberapa titik lain di sekitar Ka'bah yang juga dimuliakan, seperti Rukun Yamani yang disunnahkan untuk diusap tanpa dicium bila memungkinkan, serta Maqam Ibrahim tempat salat sunnah dua rakaat setelah tawaf. Mengenali posisi masing-masing membantu jamaah beribadah dengan tertib dan tidak keliru.
Bila pada satu kesempatan Anda belum berhasil mendekati Multazam karena terlalu padat, jangan berkecil hati. Anda dapat mencoba lagi pada waktu yang lebih lengang, misalnya setelah tengah malam atau di luar musim puncak. Yang terpenting, jadikan setiap kesempatan berdoa di sekitar Baitullah sebagai momen memohon dengan sepenuh hati. Ingatlah bahwa Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya dari sudut mana pun ia berdiri, selama disertai keikhlasan, keyakinan, dan adab yang terjaga terhadap sesama jamaah.